Pengaturantempat duduk menentukan keberhasilan dalam penerapan model pembelajaran Kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaturan tempat duduk kelas berdasarkan mazhab McCroskey pada pembelajaran saintifik di Sekolah Menengah Kejuruan yang meliputi model traditional, horseshoe, dan modular arrangement.
Variabelbebas dalam penelitian ini adalah : 1) Kreativitas guru PAI (Munandar, 1992:50), dengan indikator- indikator sebagai berikut : a) Ketrampilan mengajar b) Motivasi tinggi c) Demokratis d) Percaya diri e) Berpikir divergen 2) Kemampuan mengelola kelas (Rohani, 2004:127), dengan indikator-indikator sebagai berikut : a) Pengaturan tempat
A Pengertian Penataan Ruang Kelas dalam Pengelolaan Kelas. Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan dan penataan ruang kelas/belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu siswa dalam belajar.
A Pengertian. Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer (Winataputra, 2003: 9-21) bahwa "penataan lingkungan kelas
Penyusunandan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan perlu diperhatikan hal-hal berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa, jumlah siswa dalam kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok
bacajuga judul penelitian tindakan kelas berikut : penelitian tindakan kelas matematika sd - meningkatkan prestasi belajar siswa kelas vi sd dalam menentukan kpk dan fpb melalui pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok- kelompok belajar penelitian tindakan kelas matematika sd - pengaturan tempat duduk untuk meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas v sd
. Oleh Epa Muhopilah* BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam proses pembelajaran bahwa penguasaan pengetahuan dan keterampilan hidup yang dibutuhkan siswa dalam menghadapi kehidupan rill adalah merupakan tujuan pendidikan. Tetapi dalam proses pembelajaran dalam kelas bagaiamana siswa dapat menguasai dan memahami bahan ajar secara tuntas masih merupakan masalah yang sulit. Hal tersebut dikarenakan bahwa dalam satu kelas para siswa adalah merupakan makhluk sosial yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek kecerdasan, pisikologis, biologis. Dari perbedaan tersebut maka dapat menimbulkan beragamnya sikap dan anak didik di dalam kelas. Menjadi tugas guru bagaiman menjadikan keanekaragaman karakteristik siswa tersebut dapat diatasi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal itu merupakan tugas bagi guru dalam mengelola kelas dengan baik. Keterampilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran tidak hanya tertuang dalam penguasaan bahan ajar atau penggunaan metode pembelajaran, tetapi proses pembelajaran yang baik akan dipengaruhi pula oleh iklim belajar yang kondusif atau maksimal berkaitan dengan pengaturan orang siswa dan barang. Banyaknya keluhan guru karena sukarnya mengelola kelas sehingga tujuan pembelajaran sukar untuk dicapai. Hal ini kiranya tidak perlu terjadi apabila ada usaha yang dapat dilakukan oleh guru dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif dan maksimal. Misalnya penataan ruang kelas berupa pengaturan/ penataan tempat duduk yang sesuai dengan kegiatan yang sedang berlangsung. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dapat diketahui setelah diadakan evaluasi dengan seperangkat item soal yang sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran. Dari permasalahan tersebut maka kiranya perlu bagi guru atau calon pengajar mengetahui dan memahami tentang pengelolaan kelas, salah satunya yaitu pengaturan ruangan kelas berupa penataan tempat duduk siswa. B. Tujuan Penulisan Dari pemaparan di atas maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini yaitu Untuk memperoleh gambaran tentang apa itu pengelolaan kelas Untuk memperoleh gambaran tentang penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk dari pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran dan pendidikan. C. Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu dapat menambah wawasan bagi guru dan mahasiswa keguruan tentang pengelolaan kelas, dan bagaimana penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk dari pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru. BAB II PENATAAN TEMPAT DUDUK SISWA SEBAGAI BENTUK PENGELOLAAN KELAS A. Pengertian Pengelolaan Kelas Menurut Winataputra 2003, menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah serangkaian kegiatan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosoi- emosional yang positif , serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif. Akhmad Sudrajat menyatakan bahwa “Pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, didalamnya mencakup pengaturan orang peserta didik dan fasilitas”. Dan menurut Winzer Winataputra, 1003 menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial. Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan management lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang siswa dan barang/ fasilitas. Kegiatan guru tersebut dapat berupa pengaturan kondisi dan fasilitas yang berada di dalam kelas yang diperlukan dalam proses pembelajaran diantaranya tempat duduk, perlengkapan dan bahan ajar, lingkungan kelas cahaya, temperatur udara, ventilasi dll. B. Penataan Ruang Kelas Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkunagan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell Winataputra, 2003 yaitu 1. Visibility Keleluasaan Pandangan Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran. 2. Accesibility mudah dicapai Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja. 3. Fleksibilitas Keluwesan Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok. 4. Kenyamanan Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas. 5. Keindahan Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. 3 yaitu Ukuran bentuk kelas Bentuk serta ukuran bangku dan meja Jumlah siswa dalam kelas Jumlah siswa dalam setiap kelompok Jumlah kelompok dalam kelas Komposisi siswa dalam kelompok seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita. Berkaitan dengan penataan ruang kelas belajar maka pada penulisan makalah ini hanya berkaitan dengan pengelolaan kelas berupa penempatan tempat duduk siswa saja. C. Tempat Duduk Siswa Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang. Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat di duduki oleh seorang siswa, dan satu tempat yang diduduki oleh beberapa orang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu mudah di ubah-ubah formasinya yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pembelajaran. Untuk ukuran tempat dudukpun sebaiknya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil sehingga mudah untuk diubah-ubah dan juga harus disesuaikan dengan ukuran bentuk kelas. Sebenarnya banyak macam posisi tempat duduk yang bias digunakan di dalam kelas seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainga. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakandalam kelas dengan metode belajar ceramah. Dan untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan. Dan sebagai alternatif penataan tempat duduk dengan metode kerja kelompok atau bahkan bentuk pembelajaran kooperatif, maka menurut Lie 2007 52 ada beberapa model penataan bangku yang biasa digunakan dalam pembelajaran kooperatif, diantaranya seperti Meja tapal kuda, siswa bekelompok di ujung meja Penataan tapal kuda, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan Meja Panjang Meja Kelompok, siswa dalam satu kelompok ditempatkan berdekatan Meja berbaris, dua kelompok duduk berbagi satu meja Dan masih ada beberapa bentuk posisi tempat duduk yang dapat diterapkan dalam pembelajaran kooperatif ini. Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan jumlah siswa dalam satu kelas yang kan disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan. Hal yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja. Tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa. Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono 4 melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan inteligensi. Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar Persamaan dan perbedaan dalam bakat Persamaan dan perbedaan dalam sikap Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah Persamaan dan perbedaan dalam minat Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan. Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa di atas, sangat berguna dalam membantu usaha pengaturan siswa di kelas. Terutama berhubungan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa dan penataan tempat duduk dengan metode belajar kelompok guna menciptakan lingkungan belajar aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat terlaksana. Penempatan siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau rendah. Dan bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll. D. Penataan Tempat Duduk Siswa Sebagai Bentuk Pengelolaan Kelas Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya di dalam kelas. Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer Winataputra, 2003 9-21 bahwa “penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan”. Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, melalui kegiatan pengaturan siswa dan barang/ fasilitas. Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk siswa sebagai bentuk pengelolaan kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Keterampilan pengelolaan kelas perlu dimiliki oleh guru, karena hal ini akan membantu dalam pencapaian tujuan pembelajaran sendiri. Pengelolaan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditujukan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimal. Pengelolaan kelas ditekankan pada aspek pengaturan management lingkungan pembelajaran yaitu berkaitan dengan pengaturan orang siswa dan barang/ fasilitas. Salah satu bentuk pengelolaan kelas adalah penatan tempat duduk, dimana penatan tempat duduk perlu memperhatikan lingkungan fisik kelas dan juga keanekaragaman karakteristik siswa, serta mempertimbangkan kesesuaian metode yang digunakan dengan tujuan akhir dari pembelajaran itu sendiri. Kondisi dan posisi tempat duduk dapat menentukan tingkat aktivitas belajar siswa di kelas. Hal tersebut sisebabkan karena tempat duduk yang nyaman akan membantu siswa untuk tenang dalam belajar dan apat pula menimbulkan gairah belajar siswa. B. Saran Kiranya perlu menjadi perhatian bagi guru dan bahkan calon pengajar bahwa keterampilan mengelola kelas salah satunya penataan tempat duduk harus dikuasai. Pengelolaan kelas menyangkut kepada menciptakan iklim atau kondisi belajar yang kondusif dan aksimal. Melalui penatan tempat duduk yang tepat diharapkan akan menfasilitasi siswa untuk belajar dengan aktif. Adapun saran yang dapat dilakukan dalam penatan tempat duduk seperti Menentukan posisi tempat duduk yang disesuaikan dengan metode pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kondisi baik bentuk, ukuran tempat duduk harus baik dan pas Menggunakan tempat duduk yang mudah diatur atau diubah-ubah untuk mempermudah merubah posisi tempat duduk Penempatan siswa sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya, misalnya menempatkan siswa yang berpostur tingi di belakang, menempatkan siswa yang hiper aktif di depan sehingga guru mudah untuk memantau. ============= DAFTAR PUSTAKA Akhmad Sudrajat. 2008. Teknik Pengelolaan Kelas. Anita Lie. 2007. Cooperative Learning Memperaktikan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta PT Grasindo Udin S. Winataputra. 2003. Srategi Belajar mengajar. Jakarta Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional Epa Muhopilah* adalah mahasiswa tingkat IV pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah seminar Ilmu Manajemen, yang disampaikan oleh Bapak Dr. Uhar Suharsaputra, dan Bapak Akhmad Sudrajat,
Pengaturan Tempat Duduk Kelas Sesuai Dengan Tujuannya- Sebagai seorang guru tentu anda ingin proses pembelajaran yang anda ampu berjalan dengan kondusif. Membuat siswa nyaman belajar dan betah dalam kegiatan pembelajaran juga menjadi hal yang harus diperhatikan oleh guru. Mengatur tempat duduk siswa dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting bagi guru. Jangan sampai pengaturan tempat duduk yang salah membuat siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Misalnya saja, pembelajaran yang bertujuan agar siswa dapat bekerja sama secara berkelompok, namun anda gunakan pengaturan yang berbanjar berjejer kebelakang tentu tidak akan cocok. Pengaturan tempat duduk siswa sangat ditentukan pada tujuan pembelajaran yang akan anda lakukan. Berikut ini bentuk pengaturan tempat duduk siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. 1. Klasik Pengaturan tempat duduk dengan pola klasik ini sudah sangat lawas digunakan di hampir seluruh kelas. Tempat duduk siswa yang berbanjar kebelakang. Satu leret tempat duduk bisa berisi 5 -4 deret tempat duduk siswa. Pengaturan tempat duduk dengan pola klasik ini sangat tepat digunakan bila anda bertujuan menyampaikan materi yang melatih siswa untuk menyimak. Pola tempat duduk klasik memang memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihan dari pengaturan tempat duduk siswa secara klasik akan memberikan suasana kelas yang indah dan rapi. Anda pun dengan mudah melempar pandangan ke seluruh siswa. Kekurangan pengaturan tempat duduk secara klasikal ini kurang memberikan siswa kesempatan untuk saling berinteraksi dengan siswa lainnya. Sehingga kalau anda ingin siswa anda belajar berdiskusi maka, pengaturan tempat duduk ini kurang kondusif. 2. Konferensi / Melingkar Pengaturan tempat duduk konferensi / melingkar merupakan pengaturan tempat duduk yang sangat cocok digunakan pada kelas yang bertujuan untuk melatih siswa saling bercurah pendapat. Pengaturan tempat duduk melingkar sering kita gunakan pada acara-acara rapat dan konferensi. Bila menerapkan pola tempat duduk melingkar maka guru bisa berada pada posisi seperti pada gambar diatas. Ruang di tengah bisa digunakan oleh kelas untuk kegiatan presentasi atau pementasan. Mungkin sahabat sudah menerapkan pola tempat duduk seperti ini? 3. Pola 'U' Pengaturan tempat duduk yang berpola dengan bentuk huruf 'U , memposisikan guru berada di tengah-tengah dengan siswa berjejer seperti huruf U. Formasi tempat duduk yang berbentuk 'U membuat siswa lebih mudah untuk berinteraksi dengan seluruh siswa. Dengan ruang yang berada di tengah maka guru dengan mudah untuk memberikan pendampingan kepada siswa. 4. Pola lingkaran kecil Pengaturan tempat duduk dengan pola lingkaran kecil ini sangat cocok digunakan bila pembelajaran bertujuan untuk melatih siswa bekerjasama dalam kelompok kecil. Dengan bentuk melingkar, siswa akan lebih mudah saling berinteraksi sesama anggota kelompok. Guru pun akan lebih mudah dalam mengawasi serta mendampingi setiap kelompok. Demikianlah sahabat pengaturan tempat duduk yang bisa saya sampaikan kali ini. Semoga pola pengaturan tempat duduk yang saya sampaikan ini bisa menginspirasi suasana kelas yang anda ampu. Semoga bermanfaat !!!
Termasuk kegiatan pengelolaan kelas adalah pengaturan ruang belajar kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar secara berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa guna memberi bantuan baik secara individual maupun kelompok dalam pelaksanaan KBM, sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, dalam pengaturan ruang kelas Hal-hal yang perlu mendapat perhatian, adalah 1. Ukuran dan bentuk kelas2. Ukuran dan bentuk bangku/kursi/meja3. Jumlah siswa dalam satu Jumlah kelompok dalam satu Jumlah anggota dalam satu kelompok6. Komposisi siswa dalam kelompok misalnya ; pria -wanita Dalam masalah penataan ruang kelas ini uraian akan diarahkan pada pembahasan masalah pengaturan tempat duduk pengaturan alat-alat pengajaran, penataan keindahan dan kebersihan kelas, dan ventilasi serta tata Pengaturan Tempat Duduk Dalam belajar siswa memerlukan tempat duduk. Tempat duduk mempengaruhi siswa dalam belajar. Bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka siswa akan dapat belajar dengan tenang. Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk dapat diduduki oleh beberapa orang, ada pula yang hanya dapat diduduki oleh seorang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa itu ukurannya jangan terlalu besar agar mudah diubah-ubah formasinya. Ada beberapa bentuk formasi tempat duduk yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Apabila pengajaran itu akan ditempuh dengan cara berdiskusi, maka formasi tempat duduknya sebaiknya berbentuk melingkar. Jika pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, maka tempat duduknya sebaiknya berderet memanjang ke belakang. Sudirman N 1991; 318 mengemukakan beberapa contoh formasi tempat duduk, yaitu posisi berhadapan, posisi setengah lingkaran, dan posisi berbaris ke Pengaturan Alat-alat Pengajaran Di antara alat-alat pengajaran di kelas yang harus diatur adalah sebagai berikuta. Perpustakaan Kelas Sekolah yang maju ada perpustakaan di setiap kelas, Pengaturannya bersama-sama Alat-alat Peraga media Pengajaran Alat peraga atau media pengajaran semestinya diletakkan di kelas agar memudahkan dalam penggunaannya, Pengaturannya bersama-sama Papan Tulis, Kapur Tulis, dan lain-lain Ukurannya Disesuaikan, Warnanya harus kontras , Penempatannya memperhatikan estetika dan terjangkau oleh semua Papan Presensi Siswa Ditempatkan di bagian depan sehingga dapat dilihat oleh semua siswa. Difungsikan sebagaimana Penataan Keindahan dan Kebersihan Kelasa. Hiasan dinding pajangan kelas hendaknya dimanfaatkan untuk kepentingan pengajaran, misalnya- Burung Garuda- Teks Proklamasi- Slogan pendidikan - Para pahlawan - Peta/globeb. Penempatan lemari - Untuk buku di depan - alat-alat peraga di belakangc. Pemeliharaan kebersihan- Siswa bergiliran untuk membersihkan kelas- Guru memeriksa kebersihan dan ketertiban di Ventilasi dan Tata Cahaya- Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan Sebaiknya tidak Pengaturan cahaya perlu diperhatikan- Cahaya yang masuk harus cukup- Masuknya dari arah kiri, jangan berlawanan dengan bagian depan. Berkaitan dengan usaha membuat pajangan kelas, ada beberapa hal yang perlu dipahami oleh guru, Mengapa kita memamerkan pajangan kelas?b. Kapan direncanakan pajangan kelas?c. Pekerjaan siapa yang seharusnya dipajang?d. Dimana hasil pekerjaan diletakkan?e. Apa yang diperlukan guru untuk mengadakan pajangan yang baik? Akhirnya, untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi siswa dalam belajar, hal-hal berikut kiranya dapat dijadikan pegangan, yaitu1 Mengatur tempat duduk siswa harus mencerminkan belajar efektif. Bangku disediakan yang memungkinkan dipindah-pindah atau diubah tempatnya2 Ruangan kelas yang bersih dan segar akan menjadikan siswa bergairah belajar3 Memelihara kebersihan dan kenyamanan suatu kelas/ruang belajar, sama artinya dengan mempermudah siswa menerima Muhammad Azhar, 1993, proses belajar mengajar pola CBSA, Surabaya; usana offsetSyaiful Bahri djamarah & aswan Zain, 2002, strategi belajar mengajar, Jakarta; Rineka cipta
4 Cara mudah menata tempat duduk siswa – Kelas merupakan sebuah ruangan dengan ukuran tertentu sebagai tempat berlangsungnya proses belajar dan mengajar. Penataan ruang kelas yang baik akan berpengaruh terhadap kelancaran proses belajar siswa dan proses guru mengajar. Kondisi ruang kelas yang tertata dengan baik akan meningkatkan hasil belajar siswa. Alasan ini cukup masuk kelas yang tertata dengan rapi akan membuat siswa merasa nyaman belajar atau berada di dalam kelas. Begitu pula halnya dengan guru, merasa betah berada dalam kelas untuk mengajar dan menghadapi siswa. Untuk menata ruang kelas agar nyaman, terutama mobiler dan tempat duduk siswa, dapat dilakukan hal-hal berikut ini meja dan kursi siswa Ruang kelas terdiri dari beberapa unit mobiler, seperti meja tulis dan kursi tempat duduk meja dan kursi siswa tersedia di dalam ruang kelas sebanyak jumlah siswa. Namun demikian, sebaiknya disediakan satu atau dua unit meja dan kursi cadangan. Mobiler ini disusun dengan rapi di bagian belakang ruang kelas. Jika ada meja atau kursi yang rusak, siswa tidak perlu lagi mencari-cari kursi dan meja ke kantor majelis guru. Kemudian meja dan kursi yang tidak bisa dipakai lagi sebaiknya dikeluarkan dan di pindahkan ke gudang sekolah. tempat duduk siswa Susunan tempat duduk siswa lazimnya berbentuk persegi panjang, tergantung ukuran ruang kelas. Disusun secara horizontal dan susunan seperti ini dapat dimodifikasi sesuai kreativitas guru wali kelas. Dengan membuat formasi yang bervariasi akan dapat mengubah suasana di ruang sesekali menyusun tempat duduk siswa dengan membentuk pola huruf U, meja bundar, dan lain ini akan bernilai guna dalam meningkatkan gairah belajar siswa. siswa di ruang kelas Siswa yang bertubuh kecil atau pendek ditempatkan pada barisan terdepan sehingga tidak menghalangi siswa bagian belakang untuk melihat ke papan tulis. Kecuali siswa yang mengalami gangguan penglihatan. Meskipun bertubuh tinggi atau besar, tetap ditempatkan pada barisan terdepan. Sebaiknya ditempatkan di bagian kiri atau kanan ruang kelas. meja dan kursi siswa Fisik meja dan kursi siswa perlu dijaga ketahanannya agar tidak cepat rusak atau goyah ketika diduduki oleh siswa. Hal ini dilakukan supaya tidak mengganggu konsentrasi belajar siswa. Selain itu juga perlu dirawat dari coretan tinta, kapur dan alat tulis lainnya agar terlihat tetap ingin lebih bagus tampilan meja tulis siswa di ruang kelas, mungkin perlu dialas dengan kertas berwarna yang dilapisi plastik kaca. Itulah 4 cara yang dilakukan untuk menata tempat duduk siswa di ruang kelas agar proses belajar dan mengajar berjalan lancar dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Semoga.***
Abstrak Artikel ini membahas bagaimana pengelolaan kelas terhadap penataan posisi tempat duduk yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan di kelas. Pengaturan tempat duduk merupakan salah satu hal terpenting karena adanya tatap muka antara peserta didik dan guru didalam kelas. Tatap muka ini digunakan agar guru dapat mengontrol dan mengawasi setiap perilaku siswa-siswa didalam kelas sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan efektif. Metode yang digunakan untuk mengetahui peserta didik yang mengalami masalah dalam ketahanan duduknya digunakan metode observasi dan kuesioner. Penelitian ini bersifat kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pengaruh penataan posisi tempat duduk terhadap ketahanan duduk peserta didik yang diharapkan dapat mengurangi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan didalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD Negeri yang berada di Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini dalam pelaksanaannya diorientasikan pada peserta didik kelas satu. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa setelah peserta didik diberikan program penataan posisi tempat duduk, peserta didik mengalami perubahan namun dalam perubahan tersebut belum bersifat signifikan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free EduHumaniora Jurnal Pendidikan Dasar p-ISSN 2085-1243 e-ISSN 2579-5457 Vol. 12 Juli 2020 Hal 125-130 Mardiyah, Dewi, Safaruddin, Almanawara Posisi Tempat Duduk terhadap Ketahanan Duduk Peserta Didik dalam Pembelajaran 125 PENGARUH PENATAAN POSISI TEMPAT DUDUK TERHADAP KETAHANAN DUDUK PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN Safaruddin, Ainul Mardiyah, Rahmah Sari Dewi, Agmi Almanawara1,2,3,4 Universitas Negeri Padang Abstract This article discusses how classroom management of seating arrangements could affect the behavior of students who often walk around in class. Seating arrangements were one of the most important things because of the presence of face-to-face meetings between students and teachers in the classroom. This face-to-face was used so that the teacher can control and supervise every behavior of the students in the classroom so that the learning process can run well and effectively. The method used to find out students who experience problems in sitting resilience used observation and questionnaire methods. This research was qualitative in nature which aims to explain how the influence of arrangement of seat position on the resilience of students is expected to reduce the behavior of students who often take a walk in the classroom when the learning process takes place. This research was conducted in one of the Public Elementary Schools in Padang, West Sumatra. This research in its implementation was oriented to first grade students. The results of this study state that after students were given a seating position structuring program, students experience change but the changes have not been significant Keyword seating position, sitting resistance Abstrak Artikel ini membahas bagaimana pengelolaan kelas terhadap penataan posisi tempat duduk yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan di kelas. Pengaturan tempat duduk merupakan salah satu hal terpenting karena adanya tatap muka antara peserta didik dan guru didalam kelas. Tatap muka ini digunakan agar guru dapat mengontrol dan mengawasi setiap perilaku siswa-siswa didalam kelas sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan efektif. Metode yang digunakan untuk mengetahui peserta didik yang mengalami masalah dalam ketahanan duduknya digunakan metode observasi dan kuesioner. Penelitian ini bersifat kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pengaruh penataan posisi tempat duduk terhadap ketahanan duduk peserta didik yang diharapkan dapat mengurangi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan didalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD Negeri yang berada di Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini dalam pelaksanaannya diorientasikan pada peserta didik kelas satu. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa setelah peserta didik diberikan program penataan posisi tempat duduk, peserta didik mengalami perubahan namun dalam perubahan tersebut belum bersifat signifikan. Kata Kunci Posisi tempat duduk, Ketahanan duduk Universitas Negeri Padang, Email safaruddin0366 Universitas Negeri Padang, Email mardiyahainul355 Universitas Negeri Padang, Email rahmahsari922 Universitas Negeri Padang, Email Agmialmanawara 126 EduHumaniora Vol. 12 No. 2, Juli 2020 PENDAHULUAN Pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran sangat diperlukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan dapat berlangsung dengan nyaman. Bagi sebagian peserta didik penataan tempat duduk merupakan hal yang sangat berpengaruh ketika belajar, masing-masing peserta didik memiliki kenyamanan tersendiri agar peserta didik memiliki ketahanan duduk dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Pengaturan tempat duduk didalam kelas juga dapat mempengaruhi kinerja peserta didik tersebut. Sebagian peserta didik lebih dapat dengan mudah menerima pelajaran ketika mereka duduk dibangku depan, sebagian peserta didik lainnya lebih nyaman menerima pelajaran ketika mereka duduk dibangku bagian tengah dan belakang maupun menggunakan model tempat duduk setengah lingkaran. Guru sebagai seorang pendidik harus mampu menata lingkungan fisik kelas dengan baik. Melalui penataan kelas yang tepat maka akan tercipta suasana belajar yang kondusif, selain itu siswa juga akan mendapat dorongan dan rangsangan untuk lebih semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Penataan lingkungan fisik kelas dapat berupa penataan tempat duduk Lestari, dkk, 2017. Sejalan dengan hal itu Richards 2012 mengatakan bahwa untuk menghidupkan ruang kelas dengan antusiasme dan pembelajaran diperlukan guru yang berbakat dalam menghasilkan suasana yang dapat membuat peserta didik menjadi lebih baik dan fokus, sehingga peserta didik dapat fokus dalam mengerjakan tugasnya dan dapat tenang. Ada beberapa peneliti yang melakukan penelitian mengenai penataan tempat duduk. Penelitian lain melaksanakan studi yang berfokus terutama pada hubungan langsung antara pengaturan dan perilaku peserta didik. Pengaturan tempat duduk tradisional bermakna bagi pengaturan ruang kelas dan menjadi komponen kunci untuk perilaku peserta didik karena mempengaruhi kinerja kelas, tetapi ada permasalahan dimana untuk meningkatkan efektivitas desain ruang kelas tersebut khususnya yang berkaitan dengan pengaturan tempat duduk harus dilakukan studi lebih lanjut tentang pengaruh latar belakang budaya peserta didik Haghighi & Jusan, 2012. Penelitian yang dilakukan Mansyur 2013 menyatakan hasil pengujian hipotesis diperoleh bukti bahwa rata-rata skor hasil belajar Statistik Pendidikan mahasiswa yang duduk diposisi depan secara signifikan lebih tinggi dari pada rata-rata skor hasil belajar Statistik Pendidikan mahasiswa yang duduk diposisi belakang. Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningrum 2017 mendapatkan hasil dari SD Negeri yang berada di Kecamatan Talun, dari ke empat SD yang ada, peneliti mengambil hasil dari SD Negeri 3 Talun bahwa tingkat prestasi belajar peserta didik yang duduk diposisi depan memiliki tingkat prestasi belajar sedang, sedangkan pada peserta didik yang duduk di posisi tengah mendapatkan tingkat prestasi belajar sedang dan rendah, dan untuk peserta didik di posisi duduk dibelakang mendapatkan tingkat prestasi belajar yang sedang. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan pengelolaan kelas berupa pengaturan posisi tempat duduk terhadap peserta didik yang mengalami Attention problems/ Inatensivitas yang menyebabkan ia memiliki perilaku sering berjalan-jalan saat pembelajaran di kelas. Peneliti mengamati bahwa salah satu penyebab peserta didik memiliki perilaku sering berjalan-jalan di kelas tersebut dikarenakan peserta didik ditempatkan diposisi duduk paling belakang sehingga peserta didik tidak fokus dalam belajar. Mardiyah, Dewi, Safaruddin, Almanawara Posisi Tempat Duduk terhadap Ketahanan Duduk Peserta Didik dalam Pembelajaran 127 Oleh sebab itu, peneliti melakukan penelitian berupa pemindahan posisi tempat duduk peserta didik ke depan, yang bertujuan agar peserta didik lebih fokus dalam pembelajaran dan dapat mengurangi perilaku berjalan-jalannya didalam kelas tersebut. TINJUAN PUSTAKA Belajar merupakan salah satu aktivitas yang memerlukan konsentrasi ataupun pemusatan perhatian yang baik sehingga peserta didik mampu menerima pembelajaran, namun dalam hal ini terdapat peserta didik yang tidak memiliki konsentrasi yang baik atau mengalami gangguan pemusatan perhatian yang sering disebut attention problems atau inatensivitas. Pada peserta didik yang mengalami gangguan pemusatan perhatian attention problems /immaturity memiliki perilaku seperti konsentrasi yang jelek, sering bingung dan implusif Sumekar, 2009. Sedangkan pada peserta didik inatensivitas menunjukkan tidak adanya perhatian atau tidak menyimak dalam pembelajaran. Penderita mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap sesuatu yang sedang dihadapinya. Berikut ciri-ciri peserta didik yang mengalami inatensivitas a gagal menyimak hal yang rinci, b kesulitan bertahan pada satu aktivitas, c tidak mendengarkan sewaktu diajak berbicara, d sering tidak mengikuti instruksi, e kesulitan mengatur jadwal tugas dan kegiatan, f sering menghindar dari tugas, g sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk tugas, h sering beralih perhatian oleh stimulus dari luar, dan i sering lupa dalam kegiatan sehari-hari Marlina, 2011. Pemusatan perhatian merupakan hal yang tidak bisa diabaikan didalam kegiatan pembelajaran, karena tanpa adanya pemusatan perhatian di dalam kegiatan pembelajaran maka kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak dapat berjalan secara optimal Sukmawati, 2012. Salah satu akibat dari attention problems/inatensivitas ialah peserta didik sering menunjukkan perilaku seperti tidak mendengarkan guru saat pembelajaran dan sering berjalan-jalan di kelas. Supaya pembelajaran dapat berjalan lebih baik dan efektif, maka perlu dilakukannya penataan kelas. Penataan kelas merupakan cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan akademis dan sosial Luwesty, Syaiful, & Ekwandari, 2017. Penataan tempat duduk menjadi salah satu pengelolaan kelas yang mudah dilakukan karena tidak memakan waktu yang lama. Penataan tempat duduk memberikan efek yang cukup besar dibandingkan penataan fisik kelas lainnya. Penataan tempat duduk berpengaruh terhadap jumlah waktu yang digunakan peserta didik untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Luwesty et al., 2017. Pengaturan tempat duduk merupakan salah satu hal yang terpenting karena adanya tatap muka antara peserta didik dan guru didalam kelas. Melalui tatap muka tersebut maka guru mampu mengontrol dan mengawasi setiap perilaku siswa-siswa didalam kelas Pangastuti et al., 2017. Hal ini juga dapat diketahui pengaturan tempat duduk yang buruk dapat memengaruhi belajar peserta didik, jadi dengan memodifikasi pengaturan tempat duduk yang sesuai dan tepat dapat menjadi metode yang sangat bagus untuk mengurangi perilaku gangguan yang memengaruhi lingkungan kelas Haghighi & Jusan, 2012. 128 EduHumaniora Vol. 12 No. 2, Juli 2020 METODOLOGI PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di salah satu SDN yang berada di kota Padang, Sumatera Barat. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari hingga April 2019, adapun pelaksanaan program dilakukan selama kurang lebih satu minggu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk menyelidiki pengaruh penataan posisi tempat duduk terhadap ketahanan duduk peserta didik. Pelaksanaan program dilakukan sebanyak satu kali, dimana peneliti dibantu oleh wali kelas untuk mendapatkan informasi mengenai hasil pelaksanaan program yang telah dilaksanakan. Oleh karena itu dilakukan wawancara terhadap guru wali kelas sesudah pemberian program pada peserta didik. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik yang diidentifikasi mengalami gangguan perilaku berupa sering berjalan-jalan di kelas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Identifikasi Masalah Pada tahap ini dilakukan pengumpulan berbagai informasi tentang peserta didik yang memiliki hambatan perilaku berupa sering berjalan-jalan di dalam kelas. Proses pengumpulan informasi didapat dari wawancara yang dilakukan terhadap guru dan kuesioner yang dilakukan kepada siswa-siswi yang berada di kelas satu. Dari hasil observasi yang dilakukan ditemukan bahwa 1 sistem penataan tempat duduk yang terdapat di dalam kelas ialah formasi tradisional baris dan kolom; 2 peserta didik yang mengalami hambatan perilaku memiliki posisi duduk di barisan belakang. Permasalahan yang ada 1 peserta didik kurang fokus dalam memperhatikan pembelajaran; 2 pola penataan tempat duduk yang tidak dapat di ubah karena sarana yang tidak mendukung. Adapun hasil dari wawancara yang dilakukan terhadap Kepala Sekolah dan Guru kelas didapati bahwa peserta didik yang sering berjalan-jalan dikelas adalah W. Kemudian hasil dari kuesioner yang dilakukan dikelas didapati bahwa rata-rata peserta didik memilih W sebagai peserta didik yang sering berjalan-jalan didalam kelas saat proses pembelajaran. Setelah didapatkan analisis permasalahan di lapangan, tahap selanjutnya adalah melakukan rancangan program yang akan diberikan kepada peserta didik untuk mengatasi hambatan perilaku yang terjadi. Rancangan Program Merencanakan suatu pembelajaran agar berjalan dengan lancar dan efektif, maka guru perlu memiliki strategi dan metode dalam proses pembelajarannya. Proses pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan strategi ekspositori dan metode ceramah plus, yaitu metode ceramah yang digabungkan dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Sebelumnya, dalam melaksanakan pembelajaran guru sudah menerapkan strategi dan metode tersebut, namun hal ini masih kurang efektif dalam mengatasi masalah tingkah laku peserta didik yaitu sering berjalan-jalan di kelas saat pembelajaran berlangsung. Sebelum dilaksanakannya program penataan kelas, posisi duduk peserta didik berada di no. 13 pada gambar contoh penataan tempat duduk berikut Mardiyah, Dewi, Safaruddin, Almanawara Posisi Tempat Duduk terhadap Ketahanan Duduk Peserta Didik dalam Pembelajaran 129 Gambar 1. Contoh penataan posisi tempat duduk Oleh karena itu, peneliti mencoba melakukan pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk dimana peserta didik ditempatkan di depan nomor 3 dengan tujuan peserta didik dapat fokus dalam pembelajarannya sehingga diharapkan dapat mengurangi perilaku peserta didik berjalan-jalan saat pembelajaran berlangsung. Peneliti bekerjasama dengan guru wali kelas dalam pelaksanaan pengelolaan tempat duduk untuk menentukan posisi tempat duduk peserta didik, selain itu peneliti melakukan pendekatan dengan peserta didik sehingga peserta didik merasa nyaman. Dari pengamatan peneliti, posisi tempat duduk yang tepat bagi peserta didik yang mengalami gangguan perilaku ini yaitu dengan menempatkan peserta didik di barisan bangku paling depan dan posisi meja peserta didik ditempatkan di dekat meja guru serta berhadapan dengan papan tulis. Cara pertama yang dilakukan peneliti dalam melaksanaan penataan posisi tempat duduk ini, yaitu menggunakan pencabutan lot berdasarkan urutan absen kelas. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya cara ini kurang efektif dikarenakan tempat duduk yang didapat peserta didik lain dari hasil pencabutan lot tidak sesuai dengan keinginan peserta didik dikelas. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan cara penunjukkan secara langsung untuk memindahkan posisi tempat duduk peserta didik dibarisan depan nomor 3 atas persetujuan dan keinginan peserta didik sendiri. Berdasarkan pelaksanaan program penataan posisi tempat duduk yang dilakukan terhadap perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan di dalam kelas karena kurangnya konsentrasi saat proses pembelajaran berlangsung, yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh guru wali kelas, maka hasil yang didapat dari informasi guru wali kelas tersebut, yaitu perilaku berjalan-jalan peserta didik dikelas karena kurangnya konsentrasi dalam belajar tersebut mengalami perubahan terhadap penataan posisi tempat duduk yang dilakukan, namun perubahan tersebut belum bersifat signifikan, seperti yang pada awalnya saat peserta didik duduk dibelakang, peserta didik sering berjalan-jalan karena kurangnya konsentrasi tetapi setelah diberi program peserta didik ada mengalami perubahan pada tingkat konsentrasinya yang mengurangi sedikit perilaku berjalan-jalan peserta didik di dalam kelas. Sebelumnya dalam segi akademikpun peserta didik tidak bermasalah, seperti peserta didik sudah mengerti dengan huruf-huruf dan penggunaannya dalam pembuatan kata ataupun kalimat, namun dalam pembelajaran peserta didik masih menunjukkan ketidakmautahuan. Peserta didik malas untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, tetapi bila diberikan perhatian khusus dari guru yang tertuju kepada peserta didik, maka peserta didik mau untuk mengerjakan Tempat duduk peserta didik yang diteliti setelah dilakukan penataan posisi tempat duduk dikelas Tempat duduk peserta didik sebelum dilakukan penataan posisi tempat duduk dikelas 130 EduHumaniora Vol. 12 No. 2, Juli 2020 tugas maupun apa yang disuruh oleh guru yang mengajarnya. KESIMPULAN Dari hasil yang di dapat, maka dapat disimpulkan bahwa program penataan posisi tempat duduk yang dilakukan dengan cara penunjukkan secara langsung dapat digunakan dalam penelitian ini. Hasil pelaksanaan program penataan posisi tempat duduk yang ditunjuk secara langsung ini dapat mempengaruhi tingkah laku peserta didik yang diteliti, namun perubahan tersebut belum bersifat signifikan terhadap perubahan tingkah laku peserta didik yang sering berjalan-jalan dikelas saat proses pembelajaran berlangsung. DAFTAR PUSTAKA Haghighi, M. M., & Jusan, M. M. 2012. Exploring Students Behavior on Seating Arrangements in Learning Environment A Review. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 36 June 2011, 287–294. Kusumaningrum, N. A. M. D. D. N. B. D. E. 2017. Efek posisi tempat duduk peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik sekolah dasar negeri di kecamatan Talun Blitar, 1, 1–19. Lestari, Y. 2017. Pengaruh Penataan Tempat Duduk terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Kelas V SD N 20 Kota Bengkulu, 101, 61–65. Luwesty, A., Syaiful, M., & Ekwandari, Y. S. 2017. Exploring Students Behavior on Seating Arrangements in Learning Environment A Review, 01. Mansyur, T. M. 2013. Pengaruh Pemberian Tugas dan Posisi Tempat Duduk Terhadap Hasil Belajar Statisti Pendidikan, 26–34. Marlina. 2011. Aplikabilitas Metode Applied Behavior Analysis Untuk Mengurangi Perilaku Anak ADHD Attention Deficit Hyperactivity Disorders, 161, 39–52. Pangastuti, R., Solichah, I., Islam, U., Sunan, N., Surabaya, A., & Anak, T. P. 2017. Studi Analisis Manajemen Pengelolaan Kelas di Tempat Penitipan Anak TPA Khadijah Pandegiling Surabaya Ratna Pangastuti, Isnaini Solichah. 35, 2, 35–50. Richards, J. 2012. Setting the Stage for Student Engagement, December 2014. Sukmawati. 2012. Potret Pemusatan Perhatian Anak Di Dalam Kegiatan Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak Budi Mulia Padang, 11, 1–13. Sumekar, G. 2009. Anak Berkebutuhan Khusus. Padang UNP Press. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.
Inilah contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif adalah pengaturan kursi dan meja yang meningkatkan fokus belajar. Menurut Sudarwan Danim yang dilansir dari Idtesis, disampaikan kalau kriteria sekolah yang bagus untuk pembelajaran efektif di antaranya adalah sudah dilakukan reorganisasi kelas agar mendukung kegiatan pembelajaran. Atas dasar itu, jika ingin pembelajaran efektif, guru harus menguasai contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif. Karena hal itulah, pada artikel berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh tatanan tempat duduk siswa, yang menurut Winzer yang dikutip Winataputra 1003 tidak hanya meningkatkan semangat belajar tetapi juga agar tidak terjadi kekacauan serta meningkatkan interaksi sosial antar siswa. Ini dia contoh tatanan tempat duduk yang dimaksud 1. Tatanan Kreatif Menurut ahli, model tempat duduk yang pertama ini, disebut tatanan kreatif. Sebagian besar, meja dan kursi memang di desain berbeda. Sedangkan bentuk tatanannya menyerupai huruf. Untuk posisi melingkar disebut model huruf O, sedangkan posisi dua berjajar ke depan dan di belakang bagian tengah berjajar ke samping hingga menyatu dengan jajar yang pertama di sebut model huruf U. 2. Tata Ruang Minimalis Tata ruang kelas minimalis, adalah tata desain kelas yang tidak banyak men-distraksi siswa. Selain jumlah meja kursi yang tidak terlalu banyak, gambar-gambar di tembok juga minimal. Tata ruang seperti ini bagus untuk siswa. Karena mereka bisa fokus belajar tanpa terganggu dengan objek dan warna mencolok yang ada di ruang kelas. Selain itu, dengan adanya beberapa vas bunga sebagai pendukung ruang, membuat siswa lebih betah belajar. Karena, kelas terlihat lebih indah dan enak dilihat. 3. Tata Ruang Melengkung Classic Tata ruang melengkung classic adalah tata ruang kelas dengan tempat duduk yang lumrah. Yaitu berbanjar ke depan dan ke samping. Namun, yang membedakan hanyalah, posisi tempat duduk bagian samping kanan serong ke kiri sedangkan bagian samping kiri serong ke kanan. Posisi bagian tengah tetap, sedangkan tempat duduk guru tepat di posisi tengah bagian depan. Dengan tatanan ruang kelas semacam ini, fokus siswa lebih menyeluruh. Karena semua pandangan mengarah pada guru yang menjelaskan di depan. Selain itu, desain ruang semacam ini tidak menyulitkan. Karena guru tinggal membelokkan sedikit saja posisi meja kursi siswa. 4. Tata Ruang Formasi Chevron Contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif yang ke empat adalah tata ruang formasi Chevron. Ini adalah tata ruang yang unik. Karena itu, penataannya lebih sulit dibandingkan yang lain. Selain dibutuhkan ruang kelas yang luas, guru juga harus merombak total penataan meja dan kursi. Tata meja dan kursi formasi Chevron, jika dilihat dari belakang seperti huruf V. Yang mana, meja dan kursi bagiansamping kanan dan kiri diposisikan menyerong ke arah depan dengan desain melebar, sehingga yang di belakang mengerucut pada satu kursi dan meja saja. Di posisi tengah yang kosong bisa diisi dua set meja dan kursi untuk dua orang siswa. Sedangkan guru berada di posisi tengah bagian depan. Teknik ini tidak hanya membuat anak fokus belajar, tetapi semangat belajarnya juga menjadi tinggi. Karena tata ruang semacam ini terlihat sangat elegan dan berkualitas. Pembelajaran efektif tidak hanya ditentukan oleh cara mengajar guru dan juga materi yang disampaikan. Lain daripada itu, posisi duduk siswa juga ikut andil mencapainya. Maka dari itu, silakan terapkan contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif di atas, jika ingin posisi duduk siswa tetap nyaman saat belajar.
pengaturan tempat duduk siswa dalam kelas